SAHABATNEWS.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus berada di bawah tekanan sepanjang 2026. Mata uang Garuda bahkan tercatat melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama di Asia, menandakan tekanan yang dihadapi bukan hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari dalam negeri.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan rupiah hanya mampu menguat terhadap rupee India sepanjang tahun berjalan. Sementara terhadap mata uang Asia lainnya, rupiah justru mengalami pelemahan.
“Yang lebih menarik, kita hanya menguat terhadap rupee India. Selebihnya kita melemah terhadap semua mata uang Asia,” ujar Josua dalam media briefing, Jumat (22/5/2026).
Berdasarkan data Permata Bank per 22 Mei 2026, rupiah tercatat menguat 0,8 persen secara year to date (YTD) terhadap rupee India.
Namun terhadap mata uang lain seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan China, hingga baht Thailand, rupiah masih tertekan.
Kondisi ini dinilai mencerminkan adanya tekanan domestik yang cukup kuat. Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab, mulai dari meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan, tingginya permintaan valas menjelang musim haji, hingga ketidakpastian pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi di tengah penguatan dolar AS akibat tingginya suku bunga global dan sikap hati-hati investor terhadap pasar negara berkembang.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.
Surplus neraca perdagangan dan stabilitas sektor perbankan disebut menjadi penopang utama agar pelemahan rupiah tidak semakin dalam.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi pasar dan kebijakan suku bunga.