SAHABATNEWS.ID, TOKYO — Tekanan terhadap dunia usaha Jepang semakin berat. Sebanyak 1.028 perusahaan dinyatakan bangkrut sepanjang Juli 2026, menandai dua bulan berturut-turut dengan jumlah kebangkrutan menembus angka 1.000 kasus, (20/8/26).
Perusahaan kecil menjadi kelompok yang paling terpukul. Hampir 80 persen perusahaan yang bangkrut memiliki utang di bawah 100 juta yen, menunjukkan betapa beratnya tekanan biaya yang kini dihadapi pelaku usaha berskala kecil dan menengah.
Masalah tenaga kerja menjadi salah satu pemicu utama. Sebanyak 63 perusahaan berhenti beroperasi akibat kekurangan pekerja, sementara 36 perusahaan lainnya tidak mampu menanggung lonjakan biaya gaji.
Tekanan semakin besar akibat pelemahan yen. Harga energi dan bahan baku impor yang melonjak membuat 93 perusahaan akhirnya terseret ke dalam kebangkrutan.
Secara keseluruhan, nilai kewajiban perusahaan yang bangkrut mencapai 236,3 miliar yen, melonjak 41,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu kasus terbesar datang dari Zentoshin, yang tumbang dengan utang mencapai 115,16 miliar yen. Kasus tersebut berpotensi menjadi kebangkrutan dengan liabilitas terbesar di Jepang sepanjang 2026.
Gelombang kebangkrutan juga tidak hanya terjadi di satu sektor. Tekanan telah menyebar ke tujuh dari sepuluh sektor industri utama. Sektor jasa mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 342 kebangkrutan, disusul tekanan pada konstruksi, perdagangan ritel, transportasi, serta informasi dan komunikasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia usaha Jepang tengah menghadapi tekanan berlapis. Kekurangan tenaga kerja mendorong kenaikan upah, sementara pelemahan yen meningkatkan biaya energi dan bahan baku impor.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan kecil dengan ruang keuangan terbatas menjadi pihak yang paling sulit bertahan.
Jika tren ini berlanjut, kombinasi biaya tenaga kerja yang meningkat, harga input yang mahal, dan tekanan nilai tukar berpotensi menjadi ujian serius bagi ketahanan sektor usaha Jepang sepanjang tahun ini.