SAHABATNEWS.ID, SULSEL - Umat Islam di seluruh dunia kini memasuki fase paling istimewa dalam bulan suci Ramadan. Pada sepuluh malam terakhir inilah kaum Muslimin berlomba-lomba meningkatkan ibadah untuk meraih malam yang sangat mulia, yakni Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an lebih baik daripada seribu bulan, (10/3/26).
Keistimewaan malam tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Qadr, yang menyebut bahwa pada malam itu para malaikat turun ke bumi membawa keberkahan hingga terbit fajar.
Karena kemuliaannya yang luar biasa, umat Islam diimbau untuk memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Sejumlah hadis yang diriwayatkan dari Muhammad menyebutkan bahwa Lailatul Qadar memiliki tanda-tanda khusus yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang beribadah pada malam tersebut.
Salah satu tanda yang paling dikenal adalah suasana malam yang terasa sangat tenang dan damai. Udara tidak terlalu panas maupun dingin, dan hati orang yang beribadah merasakan ketenangan yang mendalam.
Banyak ulama menggambarkan malam itu sebagai malam yang penuh ketenteraman dan keberkahan.
Selain itu, langit pada malam tersebut sering digambarkan tampak cerah dan bersih. Suasana terasa hening, seolah menghadirkan kedamaian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tanda lain yang disebut dalam hadis adalah kondisi matahari pada pagi harinya. Sahabat Nabi, Ubay bin Ka'ab, meriwayatkan bahwa pada pagi setelah Lailatul Qadar, matahari terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan.
Banyak orang yang juga merasakan kemudahan luar biasa dalam beribadah pada malam tersebut. Shalat terasa lebih khusyuk, membaca Al-Qur’an terasa lebih menenangkan, dan doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap akan ampunan Allah.
Meski memiliki sejumlah tanda, waktu pasti Lailatul Qadar tidak pernah disebutkan secara pasti. Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
Karena itu, para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak hanya menunggu tanda-tanda tersebut, tetapi memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar pada setiap malam di penghujung Ramadan.
Pada malam yang penuh kemuliaan ini pula, Rasulullah mengajarkan doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca oleh umat Islam:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni,” yang berarti, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku.”
Bagi umat Islam, Lailatul Qadar bukan sekadar malam biasa. Ia adalah momentum spiritual yang diyakini mampu menghapus dosa-dosa masa lalu dan menjadi kesempatan emas untuk meraih keberkahan yang nilainya setara dengan ibadah selama lebih dari delapan puluh tiga tahun.
Jika Anda mau, saya juga bisa buatkan judul yang lebih viral dan membuat orang langsung ingin klik berita ini (gaya media online nasional).
Penulis:Ardi Maulana