Cari

Lebih dari 4.000 Sekolah Tutup, Korea Selatan Hadapi Darurat Demografi

SAHABATNEWS.ID, SEOUL — Krisis angka kelahiran di Korea Selatan kini berdampak langsung pada sistem pendidikan nasional Korea Selatan, Minggu 3 Januari 2026

Lebih dari 4.000 sekolah di berbagai jenjang terpaksa ditutup akibat terus menyusutnya jumlah siswa, memicu penyusutan besar-besaran yang belum menunjukkan tanda akan berhenti.

Data Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang diperoleh anggota parlemen Jin Sun-mee, seperti dilaporkan Korea Herald, mencatat hingga saat ini 4.008 sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas telah berhenti beroperasi karena minimnya pendaftar.

Penutupan ini meninggalkan ratusan gedung sekolah tanpa fungsi yang jelas.
Jenjang sekolah dasar menjadi yang paling terdampak, dengan 3.674 sekolah ditutup.

Sementara itu, 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga bernasib serupa. Dalam lima tahun terakhir saja, 158 sekolah telah ditutup, dan 107 sekolah lainnya diperkirakan akan menyusul dalam lima tahun ke depan seiring berlanjutnya tren penurunan jumlah siswa.

Wilayah non-metropolitan mengalami dampak paling signifikan. Provinsi Jeolla Utara diproyeksikan mencatat jumlah penutupan tertinggi dengan 16 sekolah, disusul Jeolla Selatan (15 sekolah), Gyeonggi (12 sekolah), dan Chungcheong Selatan (11 sekolah). Data ini menegaskan semakin lebarnya kesenjangan demografis antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Kondisi ini sejalan dengan krisis demografi yang dihadapi Korea Selatan. Badan Statistik Korea (KOSTAT) melaporkan total fertility rate (TFR) pada 2024 hanya 0,748, jauh di bawah ambang 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi.

Masalah lain muncul dari banyaknya fasilitas pendidikan yang tak lagi digunakan. Dari total sekolah yang ditutup, 376 bangunan masih kosong. Bahkan, 266 gedung telah terbengkalai lebih dari satu dekade, dan 82 sekolah ditinggalkan selama lebih dari 30 tahun.

Jin Sun-mee memperingatkan bahwa gelombang penutupan sekolah kemungkinan masih akan berlanjut. Ia mendesak pemerintah menyusun strategi jangka panjang untuk mengalihfungsikan gedung-gedung sekolah kosong agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai aset bagi masyarakat lokal.

Dampak penurunan jumlah siswa juga dirasakan oleh sekolah yang masih beroperasi. Kementerian Pendidikan mengumumkan pemangkasan 2.232 posisi guru untuk tahun ajaran 2025, yang mencakup 1.289 guru sekolah dasar dan sekitar 1.700 guru sekolah menengah pertama.

Terkait: