Cari

Puasa di Era Digital: Mampukah Kita Menahan Lisan dan Jemari?

SAHABATNEWS.ID PALOPO - Ramadhan kembali hadir di tengah derasnya arus informasi. Jika dahulu ujian puasa lebih banyak soal lapar dan dahaga, hari ini tantangannya bertambah: notifikasi yang tak henti berbunyi, perdebatan di kolom komentar, dan godaan untuk segera membalas setiap unggahan yang memancing emosi. Di era digital, puasa bukan hanya menahan lisan, tetapi juga menahan jemari.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Tujuan ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pembentukan karakter. Takwa bukan hanya tentang hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga tercermin dalam sikap sosial kita sehari-hari.

Sebagai Penyuluh Agama yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, saya melihat perubahan besar dalam cara kita menjalani Ramadhan. Dakwah kini mudah diakses melalui gawai.

Kajian dapat ditonton kapan saja, ceramah dapat didengar di perjalanan, bahkan tadarus bisa diikuti secara daring. Ini adalah peluang besar untuk memperluas kebaikan.

Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan ujian baru. Perbedaan pandangan sering kali berubah menjadi perdebatan panjang. Komentar yang seharusnya menyejukkan justru terkadang memanas. Padahal, esensi puasa adalah pengendalian diri.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12, Allah mengingatkan agar kita tidak saling merendahkan, tidak berprasangka buruk, dan tidak menggunjing. Pesan ini terasa sangat relevan di era media sosial.

Ramadhan semestinya menjadi momentum untuk memperhalus tutur kata, baik yang terucap maupun yang tertulis. Karena di dunia digital, jejak kata tidak mudah hilang.

Selain tantangan digital, isu ekonomi juga menjadi kenyataan yang kita rasakan bersama. Tidak sedikit masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, Ramadhan mengajarkan kepedulian sosial.

Allah menggambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah diibaratkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada tiap bulir seratus biji. Kebaikan yang kita tanam tidak pernah sia-sia.

Di daerah kita, tradisi berbagi takjil, pengumpulan zakat fitrah, dan kepedulian terhadap tetangga adalah pemandangan yang menenangkan hati. Nilai gotong royong yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat sejatinya selaras dengan semangat Ramadhan. Bulan ini seakan mengingatkan kembali bahwa ibadah tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial.


Ramadhan juga memberi ruang untuk memperkuat keluarga. Di tengah kesibukan dan dominasi gawai, bulan ini mengajak kita untuk kembali duduk bersama saat berbuka, mendengarkan bacaan Al-Qur’an anak-anak, dan menghidupkan salat berjamaah. Momen sederhana seperti ini mungkin terlihat biasa, tetapi dampaknya besar dalam membentuk karakter generasi.

Pada akhirnya, puasa adalah latihan kejujuran karena hanya kita dan Allah yang mengetahui kualitasnya. Ia adalah latihan kesabaran karena tidak semua dorongan harus diikuti. Dan di era digital, ia menjadi latihan kedewasaan untuk tidak mudah terpancing, tidak tergesa-gesa membagikan informasi, serta tidak ringan menuliskan kata-kata yang melukai.

Ketika takbir Idulfitri nanti berkumandang, semoga yang berubah bukan hanya kalender dan pakaian kita, tetapi juga cara kita bersikap. Jika sebelumnya kita mudah tersulut emosi di ruang digital, semoga setelah Ramadhan kita lebih bijak. Jika sebelumnya kita abai terhadap kondisi sekitar, semoga setelahnya kita lebih peka dan peduli.

Ramadhan tidak meminta kita menjauhi teknologi. Ia hanya mengajarkan agar teknologi tidak menguasai hati dan akhlak kita. Karena sejatinya, keberhasilan puasa bukan hanya terletak pada kuatnya menahan lapar, tetapi pada mampunya kita menjaga lisan dan jemari dari hal yang sia-sia.

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi titik balik bagi diri pribadi, keluarga, dan masyarakat kita. Sebab masyarakat yang kuat bukan hanya yang ramai dalam ibadah ritual, tetapi yang mampu menerjemahkan puasa menjadi akhlak, kedewasaan, dan kepedulian sosial dalam kehidupan nyata.

Oleh: (Irwan Lantasanna, S.HI., M.H.)

Terkait: