Cari

Lima Panduan Medis Untuk Puasa yang Aman, Kuat dan Berkah

SAHABATNEWS.ID, PALOPO – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, para tenaga medis mengingatkan masyarakat bahwa puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga momentum transformasi kesehatan jika dijalankan dengan persiapan dan pemahaman medis yang tepat, (18/2/25).

Puasa yang dilakukan dengan benar terbukti membantu pengendalian berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperbaiki pola metabolisme tubuh.

Namun tanpa persiapan, risiko dehidrasi, gangguan gula darah, hingga komplikasi penyakit kronis dapat meningkat. Berikut panduan medis komprehensif yang wajib menjadi perhatian publik:

1. Konsultasi Medis: Langkah Awal yang Krusial

Masyarakat dengan kondisi berikut wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa: Diabetes, Hipertensi, Penyakit jantung, Gangguan ginjal, Asma berat, Gangguan lambung kronis (GERD, tukak lambung), Ibu hamil dan menyusui, Penyesuaian dosis dan waktu konsumsi obat menjadi kunci agar terapi tetap optimal selama Ramadan.

2. Strategi Nutrisi Cerdas: Sahur & Berbuka
Saat Sahur

Konsumsi karbohidrat kompleks (oat, nasi merah, roti gandum), Protein berkualitas (telur, ayam, ikan, tahu, tempe), perbanyak serat (sayur & buah), hindari makanan terlalu asin dan berminyak.

Tujuannya energi stabil lebih lama dan mencegah lonjakan gula darah. Saat Berbuka awali dengan air putih dan kurma secukupnya hindari “balas dendam” makanlah secara bertahap
Batasi gorengan dan gula berlebih

3. Waspada Dehidrasi: Musuh Utama Saat Puasa

Rekomendasi medis: 6–8 gelas air per hari antara berbuka dan sahur. Gunakan pola 2-4-2: 2 gelas saat berbuka, 4 gelas malam hari, 2 gelas saat sahur. Tanda bahaya dehidrasi: Pusing berat, Urin pekat, Lemas ekstrem serta Jantung berdebar

4. Pengaturan Obat : Jangan Asal Hentikan

Obat 1x sehari → sahur atau berbuka
Obat 2x sehari → sahur & berbuka
Obat 3x sehari → perlu konsultasi dokter
Menghentikan obat tanpa arahan medis dapat berakibat fatal.

5. Aktifitas Fisik Tetap Boleh, Asal Bijak

Olahraga ringan–sedang dianjurkan: 30–60 menit sebelum berbuka setelah salat tarawih. Hindari aktivitas berat di bawah terik matahari.

Kondisi darurat: segera batalkan puasa jika hampir pingsan, gula darah terlalu rendah/tinggi, nyeri dada, muntah terus-menerus, dehidrasi berat, secara medis dan agama, menjaga keselamatan jiwa adalah prioritas utama.

Para ahli menegaskan bahwa Ramadan dapat menjadi “reset metabolik” tahunan bila dijalani secara cerdas. Pola makan teratur, kontrol diri, dan manajemen stres selama bulan suci dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang.

Masyarakat diimbau untuk tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga secara medis agar Ramadan tahun ini menjadi bulan yang bukan hanya penuh berkah, tetapi juga penuh vitalitas.

Oleh: dr. Host

Terkait: