SAHABATNEWS.ID, PALOPO - Ramadhan di Indonesia selalu datang dengan suasana yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Setiap tahun, Ramadhan selalu datang dengan cara yang hampir sama, tetapi terasa berbeda. Ia hadir tidak dengan dentuman, melainkan dengan getaran yang halus. Bahkan sebelum tanggalnya tiba, hawa itu sudah terasa seperti desir angin yang membawa aroma masa kecil.
Spanduk “Marhaban Ya Ramadhan” mulai terpasang di depan masjid, suara azan yang terdengar lebih dalam mengisyaratkan langkah kaki menuju masjid yang terasa lebih ringan dari biasanya, atau lantunan tadarus yang membelah malam bersahut-sahutan. Namun yang paling terasa bukanlah kemeriahannya, melainkan kerinduan yang diam-diam tumbuh di dalam diri seolah memberi tahu bahwa ada tamu agung yang segera tiba.
Ramadhan bukan sekadar perubahan ritme hidup kita, akan tetapi membawa perubahan ritme jiwa. Di bulan penuh kemuliaan, getararan batin bukan sesuatu yang dramatis dan hadir sederhana. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan kadang terasa keras, ramadhan menawarkan seperti menekan tombol ruang istirahat spiritual di tengah hiruk pikuk zaman.
Kehangatan dan senyapnya kerinduan tersebut menghadirkan ruang kontemplasi untuk kembali merapikan hati, menata niat, dan memperbaiki relasi dengan Yang Maha Kuasa yang merupakan getaran batin tanpa kita sadari bergerak perlahan di dalam diri.
Menariknya, suasana Ramadhan bukan hanya soal ibadah ritual semata akan tetrapi juga tentang tradisi kebersamaan. Seakan-akan bulan ini mengingatkan bahwa menjadi manusia yang baik adalah inti dari semua perintah ibadah.
Suasana kerinduan yang mengajak kita menata ulang prioritas dan menengok ke dalam, bertanya dengan jujur: sudahkah kita hidup dengan makna? Sudahkah kita mensyukuri yang ada? Sudahkah kita memelihara hati sebagaimana kita merawat tubuh? Apa yang selama ini kita kejar, dan untuk apa?
Bulan ramadhan seperti mengingatkan bahwa kesalehan bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga kepedulian horizontal kepada sesama. Ramadhan di Indonesia selalu hadir dengan dua wajah sekaligus: wajah spiritual yang hening dan wajah sosial yang meriah yang hadir saling berdampingan.
Ramadhan di negeri ini bukan hanya soal ibadah personal, akan tetapi bagian dari peristiwa sosial dan ramadhan seakan memberi kita kesempatan untuk menguji konsistensi. Dan di antara keduanya, kita berdiri sebagai manusia yang sedang belajar menjaga rindu yaitu rindu untuk hidup lebih jernih, lebih sabar, lebih peduli.
Makna akan ramadhan bukan sekadar menahan diri dari keinginan, akan tetapi melatih kita untuk latihan kesadaran dan merasakan keterbatasan. Untuk memahami bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang mengendalikan keinginan.
Ramadhan sejatinya adalah madrasah pengendalian diri, ramadhan mempertemukan dua arus besar: spiritualitas dan konsumsi. Setiap ramadhan Indonesia memasuki fase sosial yang khas dan rindu itu kerap harus berbagi ruang dengan euforia konsumsi.
Saat ramadhan suasana dimana masjid-masjid lebih ramai, mushala kembali hidup hingga larut malam, dan ruang-ruang privat dipenuhi percakapan batin yang lebih jujur. Namun pada saat yang sama ironi itu muncul, kerinduan ramadhan mengajarkan pembatasan hasrat, sementara pasar mendorong pemenuhan keinginan.
Pusat perbelanjaan memanjang jam operasionalnya, platform niaga daring mencatat lonjakan transaksi, dan arus distribusi barang meningkat signifikan menjelang Idulfitri. Strategi ini efektif karena keputusan konsumsi manusia kerap bersifat emosional, bukan rasional.
Fenomena konsumerisme Ramadhan juga memperlihatkan bagaimana agama dapat beririsan dengan logika pasar. Secara ekonomi, bulan suci ramadhan adalah momentum pertumbuhan dan sektor industri memahami betul bahwa bulan suci ramadhan adalah momentum emosional dimana bahan bakar paling efektif bagi keputusan konsumsi.
Data tahunan dari Bank Indonesia serta laporan berbagai lembaga riset konsumen menunjukkan bahwa peredaran uang dan konsumsi belanja rumah tangga meningkat menjelang dan selama Ramadhan hingga Idulfitri.
Dari perspektif makroekonomi, fenomena ini positif dengan hadirnya iklan-iklan ramadhan jarang menjual barang secara langsung; mereka menjual suasana haru, kebersamaan, dan nostalgia. Sektor makanan dan minuman, busana muslim, transportasi, serta ritel mengalami lonjakan permintaan.
Aktivitas belanja menciptakan perputaran uang, menggerakkan UMKM, dan membuka lapangan kerja musiman. Tradisi mudik menghidupkan ekonomi daerah serta industri parsel dan kuliner memperoleh berkah musiman. Konsumsi domestik merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren konsumsi juga mengalami pergeseran digital dimana platform e-commerce melaporkan kenaikan transaksi signifikan selama periode Ramadhan, terutama pada kategori fesyen muslim, perlengkapan ibadah, dan kebutuhan rumah tangga.
Fenomena “flash sale Ramadhan” dan “diskon menjelang Lebaran” menjadi ritual baru yang tak kalah dinanti dibanding jadwal buka puasa. Pertanyaannya bukan apakah konsumsi itu salah, akan tetapi ekonomi memang membutuhkan pergerakan.
Islam pun tidak melarang menikmati rezeki yang halal, akan tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika konsumsi kehilangan kendali dan terlepas dari kesadaran etis.
Badan Pusat Statistik secara konsisten mencatat kenaikan harga beberapa bahan pokok menjelang hari raya. Bagi sebagian keluarga kelas menengah, kenaikan ini mungkin hanya berarti penyesuaian anggaran.
Namun bagi keluarga berpenghasilan rendah, lonjakan harga dapat menjadi sumber kecemasan. Ramadhan, yang semestinya menjadi bulan ketenangan, justru berubah menjadi tekanan ekonomi.
Di ruang publik, kita juga dapat menyaksikan dua gambaran yang kontras dalam realitasnya dimana satu sisi, restoran dan hotel menawarkan paket buka puasa premium dengan harga ratusan ribu rupiah per orang. Di sisi lain, masih ada warga yang mengandalkan pembagian takjil gratis untuk sekadar membatalkan puasa. Kontras ini bukan fenomena baru, tetapi Ramadhan membuatnya lebih terlihat.
Sosiolog menyebut kondisi ini sebagai paradoks religius-modern yaitu agama mendorong asketisme moderat dimana pengendalian diri yang seimbang, sementara modernitas pasar menormalisasi konsumsi sebagai ekspresi identitas. Pakaian baru bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi simbol status. Parcel bukan hanya bentuk silaturahmi, melainkan representasi citra sosial.
Di sinilah Ramadhan berfungsi sebagai cermin, yang hakikatnya adalah latihan empati. Namun empati hanya bermakna jika diterjemahkan dalam tindakan yang berkelanjutan. Lembaga filantropi melalui kegiatan zakat, infak, dan sedekah mencatat lonjakan donasi signifikan menjelang Idul fitri dimana hal tersebut menunjukkan potensi solidaritas sosial yang besar.
Konsumerisme bukan musuh yang harus dimusuhi secara ekstrem, tetapi ia perlu disadari dan dikendalikan. Ramadhan memberi kesempatan untuk menata ulang prioritas, agar nilai spiritual tidak kalah oleh dorongan pasar.
Apakah kepedulian itu berlanjut setelah gema takbir mereda? Apakah pengendalian diri tetap dipraktikkan ketika diskon besar tidak lagi dibungkus nuansa religius? Secara psikologis, suasana kolektif Ramadhan menciptakan efek normatif dimana ramadhan menguji konsistensi moral kita sebagai individu dan sebagai masyarakat.
Ketika lingkungan sekitar lebih religius, individu cenderung ikut menyesuaikan perilakunya. Masjid yang penuh mendorong orang untuk turut hadir, media yang dipenuhi pesan spiritual memperkuat atmosfer reflektif. Namun efek normatif ini bersifat temporal jika tidak disertai internalisasi nilai.
Kerinduan beribadah bukan sekadar keinginan mengikuti suasana, namun dorongan untuk memperbaiki orientasi hidup. Jika Ramadhan hanya menghasilkan peningkatan konsumsi tanpa peningkatan kesadaran, maka ada substansi yang terlewat.
Kita hidup dalam sistem ekonomi yang memang mendorong pertumbuhan melalui konsumsi. Tidak realistis mengharapkan penghentian total budaya belanja, namun realistis untuk mendorong konsumsi yang etis dengan perilaku konsumtif yang lebih bijaksana.
Penting untuk menjaga kesadaran etis seperti membeli seperlunya, menghindari pemborosan, dan memastikan sebagian rezeki dialokasikan untuk memperkecil kesenjangan.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan majemuk, ramadhan juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas dan memperlihatkan kemampuan masyarakat untuk berbagi ruang spiritual secara damai. Tradisi berbagi makanan lintas agama di beberapa daerah menunjukkan bahwa nilai empati melampaui batas identitas sehingga potensi ini patut dirawat.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya peristiwa ritual tahunan akan tetapi menjadi ruang evaluasi kolektif. Tentang kesadaran bahwa hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa dalam kita memahami tujuan keberadaan.
Ramadhan akan selalu datang dan pergi tetapi perjalanan ekonomi akan tetap bergerak dimana pasar akan terus berinovasi. Yang menjadi pertanyaan: apakah kita mampu menjaga agar spiritualitas tetap menjadi pusat, bukan pelengkap? Apakah kita semakin dewasa secara spiritual, atau sekadar semakin canggih dalam mengemas konsumsi dengan simbol religius? Jika ya, maka Ramadhan bukan hanya meningkatkan konsumsi domestik, tetapi juga meningkatkan kualitas kemanusiaan sebagai solidaritas sosial tidak tereduksi.
Ramadhan memberi peluang refleksi kolektif: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan kedewasaan spiritual. Keseimbangan inilah yang akan menentukan apakah bulan suci menjadi sekadar musim belanja atau benar-benar momentum transformasi.
Ramadhan mungkin hanya sebulan, namun getaran batinnya bisa menjadi bekal sebelas bulan berikutnya. Kerinduan spiritual di bulan ramadhan sesungguhnya adalah kerinduan untuk pulang, yaitu pulang kepada kesadaran bahwa hidup ini terbatas, pulang kepada keyakinan bahwa setiap detik memiliki nilai, pulang kepada Tuhan yang tak pernah jauh, meski sering kita abaikan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita merindukan ramadhan? tetapi apakah kita siap menjaga rasa rindu itu tetap hidup setelah ia berlalu. Sebab pada akhirnya, yang membuat Ramadhan istimewa bukan hanya suasananya, melainkan perubahan kecil yang ia tanamkan di dalam jiwa.
Oleh : Dr. A.Musniwan Kasman, S.E., M.M.
Dosen Universitas Islam Negeri Palopo