Cari

Siap Guncangkan Pasar! BUMMA Nyalakan Mesin Ekonomi Mandiri

SAHABATNEWS.ID, PALOPO - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Tana Luwu kembali menorehkan langkah berani dalam sejarah perjuangan ekonomi masyarakat adat.

Selama dua hari, 9–10 Januari, AMAN Tana Luwu menggelar Konsolidasi Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) dan Kelompok Usaha Milik Masyarakat Adat Tana Luwu, sebuah agenda strategis yang digadang sebagai tonggak kebangkitan ekonomi mandiri masyarakat adat.

Mengusung tema besar “Penguatan Kelembagaan Usaha Masyarakat Adat Tana Luwu sebagai Upaya Penguatan Kemandirian Ekonomi”, kegiatan ini mempertemukan BUMMA dari Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu dalam satu barisan perjuangan ekonomi rakyat adat, Latuppa (10/1/26).

Konsolidasi ini bukan sekadar forum diskusi. Para peserta hadir membawa produk unggulan hasil olahan masyarakat adat, mulai dari keripik lokal, kopi khas Tana Luwu, anyaman rotan, madu hutan, hingga beragam produk berbasis kearifan lokal lainnya.

Seluruh produk dipresentasikan sebagai bukti nyata bahwa masyarakat adat siap naik kelas dan bersaing di pasar regional hingga nasional.

Ketua Pengurus Harian Wilayah (PHW) AMAN Tana Luwu, Irsal Hamid, menegaskan bahwa BUMMA adalah bentuk nyata dobrakan ekonomi mandiri masyarakat adat.

“Ini bukan gerakan biasa. BUMMA adalah fondasi ekonomi masa depan masyarakat adat. Target kami jelas dan tidak main-main: pasar regional dan nasional harus menjadi ruang hidup ekonomi masyarakat adat Tana Luwu,” tegas Irsal.

Ia menambahkan, kesiapan produk telah dibangun, dan saat ini AMAN Tana Luwu fokus memperkuat jaringan distribusi serta akses pasar agar produk masyarakat adat mampu menyuplai kebutuhan di berbagai lini ekonomi.

Senada dengan itu, Ketua DAMANWil (Dewan AMAN Wilayah) Tana Luwu, Palindungan Tandigau, menekankan pentingnya konsolidasi dan pelatihan sebagai pintu masuk transformasi ekonomi masyarakat adat.

“Kegiatan ini membuka ruang pengetahuan baru bagi masyarakat adat. Dengan penguatan kapasitas dan kelembagaan, masyarakat adat tidak hanya menjadi produsen, tetapi pelaku utama ekonomi yang berdaulat atas produk dan pasarnya sendiri,” ujarnya.

Konsolidasi BUMMA dan Kelompok Usaha Milik Masyarakat Adat Tana Luwu ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat adat tidak lagi berada di pinggiran ekonomi.

Dengan kekuatan kolektif, kearifan lokal, dan kelembagaan yang solid, Tana Luwu bersiap menjadi pusat kebangkitan ekonomi adat yang berdaulat, mandiri, dan berkelanjutan.

Terkait: