Cari

Tak Hanya Industri, Dewan K3 Sulsel Kini Bidik UMKM dan Sekolah

SAHABATNEWS.ID, MAKASSAR – Sulawesi Selatan resmi menjadi provinsi kelima di Indonesia yang memiliki Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kehadiran lembaga ini diharapkan memperkuat budaya keselamatan melalui pembinaan yang tidak hanya menyasar sektor industri, tetapi juga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta dunia pendidikan.

Pembentukan Dewan K3 Sulsel ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 1910/XI/Tahun 2025 tentang Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Periode 2025–2028.

Dengan terbentuknya Dewan K3, Sulsel bergabung bersama Jawa Timur, Riau, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat yang lebih dahulu memiliki lembaga serupa.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jayadi Nas, mengatakan pembentukan Dewan K3 merupakan implementasi amanat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.125/MEN/82 tentang Pembentukan, Susunan, dan Tata Kerja Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Wilayah, serta Panitia Pembina K3.

"Sulsel menjadi provinsi kelima yang membentuk Dewan K3 setelah Jawa Timur, Riau, Kalimantan Timur, dan Jawa Barat," kata Jayadi Nas, Kamis (16/7).

Menurut Jayadi, Dewan K3 berperan memberikan saran, pertimbangan, dan masukan strategis kepada pemerintah dalam upaya meningkatkan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja serta mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di berbagai sektor.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut, Dewan K3 Sulsel membentuk tiga komisi pembinaan, yakni pembinaan K3 sektoral, pembinaan K3 UMKM, serta pembinaan K3 usia dini dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pada pembinaan sektoral, Dewan K3 akan berkolaborasi dengan berbagai perusahaan di Sulawesi Selatan, di antaranya PT Vale Indonesia, PLN, PT Semen Tonasa, Pelindo, serta sejumlah perusahaan lainnya.

Sementara itu, pembinaan pada sektor UMKM akan menyasar berbagai jenis usaha yang memiliki potensi risiko kecelakaan kerja, seperti perdagangan eceran, perbengkelan, perkebunan, perikanan dan kelautan, industri pengolahan rumah tangga, hingga usaha kuliner.

"Kami menyasar pedagang eceran, perbengkelan, perkebunan, perikanan dan kelautan, industri pengolahan rumahan hingga kuliner," ujarnya.

Menurut Jayadi, edukasi mengenai prosedur keselamatan kerja perlu diperluas karena risiko kecelakaan tidak hanya ditemukan di lingkungan industri berskala besar, tetapi juga pada berbagai aktivitas usaha sehari-hari.

Selain menyasar dunia usaha, Dewan K3 Sulsel juga mulai memperkenalkan budaya keselamatan kepada peserta didik. Program pembinaan K3 usia dini ditujukan bagi siswa SD, SMP, hingga SMK. Hingga saat ini, sebanyak 12 sekolah di Sulawesi Selatan telah mengikuti kegiatan sosialisasi.

Jayadi menjelaskan, edukasi tersebut bertujuan membangun kesadaran peserta didik terhadap berbagai potensi bahaya di lingkungan sekitar, seperti penggunaan listrik, benda tajam, maupun risiko lain yang dapat memicu kecelakaan.

"Kenapa sejak dini? Agar mereka memahami bahaya listrik, penggunaan pisau, dan berbagai risiko lainnya. Apalagi lulusan SMK merupakan kelompok yang paling banyak langsung masuk ke dunia kerja, terutama di bidang kelistrikan dan industri," jelasnya.

Menurut Jayadi, program pembinaan K3 usia dini tersebut juga mendapat apresiasi dari International Labour Organization (ILO) sebagai salah satu inisiatif pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja sejak usia sekolah.

Sebagai tahap awal implementasi, Dewan K3 Sulsel akan melaksanakan pelatihan training of trainers (TOT) bagi guru bimbingan dan konseling (BK). Pelatihan akan melibatkan akademisi, praktisi keselamatan kerja, serta perusahaan mitra, termasuk PLN.

Sekolah yang berada di sekitar fasilitas kelistrikan menjadi salah satu prioritas pelaksanaan program karena dinilai memiliki kedekatan dengan potensi risiko yang perlu dipahami sejak dini.

"Guru BK akan mendapatkan pelatihan dari para pakar K3, kemudian menyampaikan materi tersebut kepada siswa di sekolah masing-masing. Setelah itu, pelaksanaannya akan kami lakukan monitoring dan evaluasi," tutur Jayadi.

Melalui pembinaan yang menjangkau dunia usaha hingga lingkungan pendidikan, Dewan K3 Sulsel diharapkan dapat memperkuat budaya keselamatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang lebih siap memasuki dunia kerja dengan mengedepankan aspek keselamatan dan kesehatan kerja. (**)

Terkait: