SAHABATNEWS.ID, PALOPO - Seringkali kita mendengar kata Vibes berseliweran di media sosial. Sebuah kata gaul dari Bahasa Inggris yang berarti getaran, atmosfer, atau aura. Jika ditarik ke dalam konteks bulan suci, Vibes Ramadan bisa kita maknai sebagai suasana batin, aroma udara, hingga desiran perasaan halus yang menyelinap ke dalam dada saat bulan puasa tiba.
Namun sadarkah kita jika rasa itu tidak selalu sama setiap tahunnya.
Getaran Ramadan saat kita kecil tentu berbeda dengan saat kita dewasa. Lingkungan tempat kita berpijak pun turut memberi warna.
Mungkin inilah alasan mengapa banyak dari kita yang rela menempuh perjalanan jauh hanya demi bisa menikmati sahur pertama bersama Ayah dan Ibu di kampung halaman. Ada kerinduan mendalam untuk menyerap kembali kehangatan suasana rumah persis seperti yang kita rasakan belasan atau puluhan tahun silam.
Mari memutar waktu sejenak ke era 90an masa di mana handphone belum menjajah perhatian kita. Kala itu vibes Ramadan terasa begitu murni dan kental bahkan sejak beberapa hari sebelum bulan suci tiba.
Ingatkah Anda kesibukan itu? Orang tua kita tampak begitu bersemangat. Di rumah ada ritual membersihkan seluruh isi rumah, karpet masjid dicuci dan dijemur berjejer, cat tembok diperbarui, hingga aroma aneka kue persiapan lebaran yang kadang sudah dicicil sejak awal.
Bagi anak anak 90an suasananya lebih seru lagi. Kita sibuk mengisi air di bak mandi agar penuh, berburu petasan atau kembang api, hingga berebut mengisi barisan saf terdepan di masjid dengan membawa Buku Kegiatan Ramadan untuk meminta tanda tangan penceramah.
Tanpa gangguan notifikasi media sosial kita benar benar hadir secara utuh. Kita ikut sibuk membantu Ibu di dapur menyiapkan sahur perdana sebuah momen sakral di mana menu favorit kita tersaji hangat di meja makan. Rasanya sederhana tapi begitu melekat di jiwa.
Bergeser ke generasi milenial sekitar tahun 2004 hingga 2005 vibes Ramadan punya warnanya sendiri. Di masa ini nuansa anak muda mulai terasa kental lewat budaya pop. Siapa yang bisa lupa? Tahun tahun itu adalah masa keemasan lagu lagu religi.
Suara Opick dengan Tombo Ati atau Ungu dengan album religinya seolah menjadi musik latar wajib yang terdengar di setiap sudut jalan, toko, hingga televisi. Lagu itu bukan sekadar hiburan tapi penanda waktu bahwa tamu agung bernama Ramadan telah tiba.
Lalu bagaimana dengan hari ini? Di era teknologi informasi yang serba cepat vibes Ramadan memang terasa sangat terlihat secara visual. Media sosial penuh dengan konten takjil, perang sarung online, hingga foto buka bersama. Ramadan terlihat sangat semarak dan ramai di layar kaca kita.
Namun anehnya banyak dari kita yang justru merasa ada yang hilang. Ada kekosongan. Sering terdengar keluhan lirih tentang rasanya yang seperti bukan bulan puasa dan tidak kerasa suasananya.
Mengapa ini terjadi? Mungkin karena fisik kita ada di masjid atau di meja makan tapi jiwa dan pikiran kita tertinggal di layar gadget. Kita lebih sibuk memotret makanan daripada meresapi nikmatnya lapar.
Kita lebih sibuk membuat status tentang ibadah daripada benar benar khusyuk menjalaninya. Riuhnya dunia maya perlahan menggerus keheningan batin yang seharusnya menjadi inti dari Ramadan itu sendiri.
Terlepas dari bagaimanapun vibes yang kita rasakan entah itu kerinduan masa lalu atau kehampaan masa kini jangan sampai kita melupakan esensi utamanya.
Ramadan tetaplah bulan teristimewa.
Ia adalah ladang untuk meraup bekal sebanyak banyaknya, sebuah tempat untuk memperbaiki diri sebelum menghadapi sebelas bulan berikutnya, dan pintu ampunan seluas samudera dari Allah SWT. Semoga Ramadan 2026 ini menjadikan kita manusia yang bertakwa.
Oleh : Muhammad Aslam
Kasi Bimas Islam Kemenag Palopo