Cari

MBG: Mending Membaca Buku Gratis daripada Makan Bergizi Gratis?

SAHABATNEWS.ID, OPINI - Perut kenyang memang penting. Namun, jika kepala tetap kosong, bagaimana sebuah bangsa bisa benar-benar maju?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai salah satu investasi terbesar pemerintah untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif.

Gagasan itu tentu sulit dibantah. Anak yang tercukupi gizinya lebih mudah belajar, sementara rasa lapar terbukti mengganggu konsentrasi dan kemampuan berpikir.

Namun, di balik besarnya perhatian terhadap pemenuhan gizi, muncul satu pertanyaan yang jarang dibahas: apakah negara juga memberikan perhatian yang sama besar terhadap pemenuhan kebutuhan pengetahuan?
Jika boleh mengusulkan kepanjangan lain dari MBG, maka saya memilih Membaca Buku Gratis.

Bukan karena makan bergizi tidak penting. Justru sebaliknya. Persoalannya, pembangunan manusia tidak cukup hanya dengan mengisi perut. Pembangunan juga harus mengisi kepala.
Realitas di lapangan menunjukkan ironi.

Anak-anak kini sangat mudah mengakses konten digital, tetapi semakin sulit memperoleh buku yang berkualitas dengan harga terjangkau. Di banyak daerah, perpustakaan hanya menjadi pelengkap administrasi, koleksinya usang, ruang bacanya kurang menarik, dan minat masyarakat terus menurun.

Bahkan, di sejumlah kampung, tempat isi ulang saldo permainan daring lebih mudah ditemukan dibandingkan ruang baca.
Di tengah kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika hoaks menyebar begitu cepat, informasi palsu mudah dipercaya, dan ruang diskusi publik lebih sering dipenuhi emosi daripada argumentasi.

Masalah utamanya bukan semata-mata teknologi, melainkan lemahnya budaya membaca.

Makanan mengenyangkan tubuh selama beberapa jam. Buku dapat memberi makan pikiran selama bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Sepiring makanan akan habis hari ini, tetapi sebuah buku dapat terus hidup melalui gagasan yang diwariskan kepada pembacanya.

Pemikir Italia Antonio Gramsci pernah menjelaskan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga melalui cara masyarakat dibentuk untuk berpikir. Ketika akses terhadap pengetahuan terbatas, masyarakat menjadi lebih mudah menerima keadaan tanpa mempertanyakannya.

Di sinilah membaca memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hobi. Membaca melatih seseorang untuk bertanya.

Mengapa pendidikan masih mahal? Mengapa harga buku sering kali lebih tinggi daripada biaya membeli kuota internet? Mengapa perpustakaan sepi pengunjung? Mengapa ilmu pengetahuan kerap kalah oleh sensasi media sosial?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadi fondasi masyarakat kritis. Dan masyarakat yang kritis cenderung lebih sulit dipengaruhi oleh informasi menyesatkan maupun propaganda.

Karena itu, yang sesungguhnya dibutuhkan bukan hanya rakyat yang kenyang, tetapi rakyat yang kenyang sekaligus gemar membaca. Mereka akan lebih berani mengawasi kebijakan publik, mempertanyakan penggunaan anggaran, dan ikut memastikan pembangunan berjalan untuk kepentingan masyarakat.

Pandangan serupa pernah disampaikan Paulo Freire. Menurut pendidik asal Brasil tersebut, pendidikan tidak boleh sekadar menjadi proses memasukkan informasi ke dalam kepala peserta didik. Pendidikan seharusnya membuat manusia mampu "membaca dunia", memahami realitas, dan memiliki keberanian untuk mengubahnya.

Sayangnya, kondisi pendidikan kita masih sering menekankan hafalan dibandingkan nalar. Anak-anak lebih sering diminta patuh daripada diajak bertanya. Akibatnya, ketika dewasa, sebagian masyarakat mudah terpancing provokasi, cepat mengambil kesimpulan, dan sulit melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterimanya.

Padahal, membaca buku mengajarkan kesabaran berpikir. Buku mengajarkan bahwa persoalan yang rumit tidak bisa diselesaikan hanya dalam tiga puluh detik seperti tayangan video pendek.

Di Sulawesi dikenal ungkapan, "Pelan-pelan ji, yang penting sampai." Filosofi itu juga berlaku dalam membaca. Prosesnya memang lambat, tetapi hasilnya membentuk cara berpikir yang lebih matang dan bertahan lama.

Karl Marx pernah mengingatkan bahwa kondisi material memang memengaruhi kehidupan manusia. Namun, manusia juga membentuk sejarah melalui kesadaran dan tindakannya. Artinya, memenuhi kebutuhan dasar merupakan syarat penting, tetapi membangun kesadaran melalui pendidikan dan pengetahuan sama pentingnya bagi kemajuan bangsa.

Karena itu, saya tidak melihat Makan Bergizi Gratis dan Membaca Buku Gratis sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya justru harus berjalan berdampingan. Tubuh yang sehat membutuhkan makanan, sementara pikiran yang sehat membutuhkan bacaan.

Sudah saatnya pembangunan tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari berapa banyak buku yang dapat diakses masyarakat, seberapa hidup perpustakaan, dan seberapa kuat budaya membaca tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari.

Sebab bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang berhasil menghilangkan rasa lapar, melainkan juga bangsa yang berhasil mengurangi kebodohan. Perut kenyang memang penting. Tetapi kepala yang tercerahkan adalah fondasi masa depan.

Penulis: Sri Wulandari

Terkait: